Screenshot 20251123 163547 Picsart e1770704542143

Politik yang Datang Tanpa Polesan – Kenapa Kita Harus Mendukung Pemimpin yang Tulus dan Dekat dengan Rakyat

Dalam peta perpolitikan Indonesia saat ini, kita sering kali melihat sosok calon pemimpin yang muncul dengan citra sempurna: rapi, berjas, pidato terstruktur, dan kampanye penuh strategi visual. Namun ada satu cerita penting yang patut menjadi cermin bagi kita semua tentang makna sesungguhnya dari kepemimpinan rakyat. Kisah itu berasal dari pengalaman bertemu dengan seseorang yang hari ini menjadi simbol perubahan politik yang nyata dan dekat — sosok yang datang bukan karena penampilan, tetapi karena panggilan perjuangan.

Saya mengenal nama Sahrin Hamid jauh sebelum mengenal pribadinya. Bukan dari seminar-acara elit, bukan dari ruang rapat berpendingin, juga bukan dari baliho besar yang menghiasi kota. Nama itu pertama kali masuk ke dalam ingatan saya dari deskripsi aksi-aksi demonstrasi menjelang runtuhnya rezim Orde Baru sekitar 1997–1998. Jejaknya di jalanan, di tengah teriakan dan keringat, menunjukkan jiwa perlawanan yang tak mau diam dalam menghadapi ketidakadilan.

Ia bukan bagian dari golongan yang menunggu elite politik berubah. Ia adalah bagian dari generasi yang menjadikan jalanan sebagai ruang pendidikan, spanduk sebagai buku, dan tantangan sebagai guru kehidupan.

Namun sebagaimana sering terjadi dalam politik, saya baru bertemu Sahrin secara langsung bertahun-tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 2003 dalam sebuah kongres organisasi pemuda di Samarinda. Percakapan lewat telepon dari seorang kawan — Ajay — menyebut nama Sahrin sebagai calon Ketua Umum organisasi BM PAN. Saya belum pernah berdiskusi satu meja, bahkan belum pernah ngopi bersama. Tetapi bagi saya, politik sering kali mempertemukan kita dengan reputasi sebelum manusia di balik nama itu dikenal secara personal.

Saat itu saya berangkat dari Manado dengan penuh harap untuk melihat proses demokrasi yang sesungguhnya. Dalam forum itu, dinamika khas organisasi pemuda terjadi: tarik-menarik suara, ego wilayah, negosiasi kepentingan, dan suara-suara yang meninggi. Saya dipercaya menjadi pimpinan delegasi dari Manado. Kami berjuang agar perwakilan kami duduk sebagai pimpinan sidang. Setelah beberapa manuver politik, panel sidang dipimpin oleh kolega kami, Bang Polo — momentum yang memicu tensi dan diskusi sengit di ruangan itu.

Namun saat sidang diskors sementara, momen yang paling membekas terjadi. Ruangan yang tadinya gaduh berubah hening ketika para kandidat masuk satu per satu. Dan di antara mereka, Sahrin Hamid muncul dengan tampilan yang tak biasa menurut standar politik modern: kaos sederhana, celana jeans, dan sandal jepit. Sementara kandidat lain tampil rapi dengan kemeja, celana bahan, dan sepatu bersih mengilap.

Sekilas, penampilannya tampak kontras — namun bagi saya, itu bukan soal fashion atau gaya. Itu adalah simbol watak politik yang sejati: seseorang yang datang bukan untuk mengambil foto, bukan untuk menonjolkan citra, tetapi karena panggilan tugas yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dalam situasi yang menuntut keberpihakan pada rakyat, Sahrin memilih menjadi dirinya sendiri — tanpa topeng, tanpa polesan, tanpa strategi pencitraan.

Dan memang, pada kongres tersebut, Sahrin terpilih sebagai Ketua Umum BM PAN dalam proses yang dinamis, nyata, dan penuh perdebatan — bukan yang steril dan sunyi tanpa suara rakyat. Keputusannya menunjukkan bahwa rakyat menghendaki pemimpin yang tak kehilangan akar perjuangan ketika memasuki ruang-ruang formal.

Perjalanan kariernya pun terus berlanjut. Sahrin kemudian menjadi anggota DPR RI, namun semangatnya tetap sederhana. Komunikasi kami tetap berlangsung lewat panggilan telepon yang ringan, penuh tawa, dan tak jarang ditutup dengan sapaan hangat yang sama: “Salam untuk semua kawan. Doakan kita selalu sehat dan sukses.” Kalimat itu sederhana — tapi mencerminkan ketulusan seseorang yang berbicara tidak karena kamera merekam, tetapi karena hubungan batin dengan rakyat.

Hari ini — sesuai kabar terbaru — Sahrin memimpin Partai Gerakan Rakyat, sebuah wadah politik baru yang berakar dari aspirasi masyarakat dan gerakan rakyat itu sendiri, yang juga secara konsisten mendukung tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan sebagai figur perubahan menghadapi tantangan bangsa.

Apa yang membuat kisah ini penting untuk kita renungkan? Bukan semata tentang satu individu, tetapi tentang apa yang sesungguhnya dibutuhkan dalam politik Indonesia saat ini: kepemimpinan yang tulus, yang hadir bukan karena pamrih atau citra, tetapi karena panggilan perubahan bagi banyak orang. Politik yang tidak menjauh dari rakyatnya, tetapi mengikuti jejak kehidupan mereka — sederhana, nyata, dan penuh tantangan.

Ketika kita memilih pemimpin, pilihlah bukan karena penampilannya yang memukau, tetapi karena integritas dan wataknya yang kuat dalam menghadapi realitas. Rendah hati bukan berarti tak mampu; sebaliknya, itu bisa menjadi modal paling kuat dalam memimpin perubahan yang berarti. Karena pada akhirnya, politik yang datang dengan sandal jepit bukan sekadar simbol — itu adalah manifestasi dari apa yang seharusnya menjadi hati nurani dari setiap pemimpin rakyat.