Sahrinhamid 2 e1770902833244

Dari Sabang sampai Merauke: Menggerakkan Harapan, Menggapai Cita‑Cita Rakyat

Bayangkan sebuah perjalanan yang tidak sekadar melintasi peta, tetapi menyentuh denyut nadi kehidupan di setiap sudut negeri. Itulah kisah yang tengah dijalankan oleh Sahrin Hamid, Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat, yang dengan penuh keyakinan menapaki bumi nusantara dari Perbatasan Merauke (Papua) hingga ke titik paling utara negeri, Miangas. Perjalanan ini bukan sekadar persoalan jarak atau capaian geografis—melainkan simbol perjuangan politik yang ingin menegaskan satu prinsip: politik harus hadir di tengah rakyat, bukan hanya di ruang elite ibu kota.

Perjalanan tersebut menjadi narasi perubahan yang kuat, bukan karena panjangnya rute yang ditempuh, tetapi karena suara yang dibawa dari setiap perhentian. Ia membawa pesan bahwa kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama setiap tindakan politik. Dari kampung nelayan di Merauke hingga ke desa terpencil di Miangas, semua menyimpan cerita dan aspirasi yang selama ini sering tak terdengar oleh para pengambil keputusan di pusat kekuasaan.


Menemukan Akar Perubahan di Tengah Rakyat

Perjalanan itu juga membawa Sahrin singgah di Manado, bukan sebagai sekadar istirahat dalam rute panjangnya, melainkan sebagai tempat untuk mengenang serta memperkuat kembali akar perjuangan. Di jalan‑jalan kecil dan ruang komunitas di Manado, ia kembali berjumpa dengan mahasiswa, aktivis, dan sahabat lama yang dulu bersama membangun wacana perubahan dari bawah. Interaksi sederhana ini menjadi bukti bahwa dialog, bukan dominasi, adalah kunci untuk mewujudkan perubahan nyata.

Di sana, dibicarakan bukan sekadar kritik atas kondisi bangsa, tetapi solusi konkret tentang bagaimana kekuasaan politik seharusnya melayani, bukan mengeksploitasi. Politik yang hadir di ruang obrolan sederhana antara pemuda dan warga desa akan jauh lebih kuat dan bermakna dibandingkan sekadar pidato berhias kata‑kata di gedung kapital. Politik yang baik adalah politik yang turun dan mencium realitas kehidupan rakyatnya.


Sahrin Hamid: Jejak Langkah Seorang Pejuang Rakyat

Tokoh sentral dari perjalanan simbolik ini, Sahrin Hamid, bukanlah sosok yang tiba‑tiba muncul di panggung politik. Ia dikenal secara nasional, pernah menjadi juru bicara politik skala besar, dan memiliki pengalaman di dunia birokrasi perkotaan—termasuk sempat menjabat sebagai komisaris BUMD. Namun, ia memilih melepaskan posisi nyaman tersebut untuk kembali berjuang bersama rakyat biasa. Langkah ini bukan sekadar perubahan karier, tetapi pernyataan tegas bahwa perubahan besar selalu dimulai dari komitmen kepada rakyat, bukan kepada kekuasaan.

Sebagai Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat periode 2026–2031, Sahrin menegaskan bahwa partainya tidak ingin menjadi sekadar organisasi politik konvensional yang tergantung pada mesin politik klasik. Ia ingin membangun kekuatan dari bawah, menyerap aspirasi sosial langsung dari mereka yang selama ini terpinggirkan—petani, nelayan, pelajar, guru, buruh dan seluruh elemen yang menjadi tulang punggung bangsa. Pendidikan yang layak, pemerataan ekonomi, dan keadilan sosial merupakan landasan utama perjuangan yang diusungnya.


Solidaritas dalam Aksi Nyata: Membela Keadilan untuk Semua

Perjuangan itu bukan hanya sekadar slogan. Ketika kasus hukum yang menimpa Tom Lembong, seorang figur nasional yang kemudian dinilai sebagai korban kriminalisasi politik, Sahrin tampil tegas untuk membela keadilan substantif. Sikap ini menggarisbawahi bahwa partai yang dipimpinnya tidak hanya ingin berbicara tentang kesejahteraan sosial, tetapi juga memperjuangkan prinsip keadilan di setiap sendi kehidupan berbangsa.

Ini adalah panggilan bagi mereka yang selama ini melihat politik sebagai sesuatu yang jauh dari realitas rakyat. Pembelaan terhadap hak asasi, keadilan hukum, dan semangat melawan praktik yang merugikan rakyat menjadi bagian dari jiwa perjuangan yang tidak bisa diabaikan.


Bangun Identitas Kolektif, Bukan Hanya Kejayaan Individual

Kunjungan ke komunitas di Sulawesi Utara membuka ruang refleksi penting: bahwa identitas lokal dan semangat kolektif masyarakat adalah modal besar bagi gerakan politik yang berkeadilan. Sahrin tidak lupa akan sejarah gerakan sosial yang tumbuh dari ruang mahasiswa, pemuda, dan komunitas masyarakat. Ini membuktikan bahwa kekuatan perubahan tidak berasal dari pusat saja, melainkan dari banyak titik kecil yang bersama‑sama menyatukan suara rakyat menjadi satu kekuatan besar.


Menutup Perjalanan: Metafora Aksi Nyata untuk Bangsa

Perjalanan dari ujung selatan hingga utara negeri adalah metafora kuat bahwa politik sejati adalah politik yang hadir bersama rakyat. Politik bukanlah soal kepentingan segelintir elit, tetapi soal keberpihakan terhadap mereka yang paling membutuhkan. Sahrin menunjukkan bahwa menjadi aktor politik hebat bukanlah tentang struktur organisasi yang megah, tetapi tentang keberanian untuk turun, menyapa, dan mendengarkan suara rakyat.

Perjalanan ini mengingatkan kita bahwa Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat tidak akan datang dari ruang ber‑AC di ibu kota, tetapi dari langkah nyata yang menyentuh tanah, dari Sabang sampai Merauke—dengan cita‑cita yang sama: kesejahteraan dan keadilan untuk seluruh rakyat