Ketum sahrin miangas tanam pohon 1280x1024

Di Ujung Negeri, Sebuah Aksi Kecil untuk Bumi yang Lebih Baik: Jejak Gerakan Rakyat di Titik 0 Km Pulau Miangas

Di sebuah pulau kecil yang paling utara di Indonesia — tepatnya di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud — sebuah kegiatan sederhana namun sarat makna berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026. Di bibir negeri, pada titik yang secara geografis dikenal sebagai Titik 0 kilometer, ratusan bibit pohon ditanam di tanah yang berbatasan langsung dengan laut, angin, dan cakrawala yang tak berujung. Aksi ini diprakarsai oleh organisasi sosial yang baru beberapa tahun belakangan kerap hadir dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan: Gerakan Rakyat.

Momen ini bukan sekadar upacara formalitas. Di bawah terik matahari tropis dan lantunan angin laut yang khas, para relawan dan tokoh yang hadir menunjukkan kepedulian mereka terhadap persoalan lingkungan yang semakin mendesak. Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, berdiri di tengah jajaran kader dan tokoh masyarakat setempat dengan sebuah pesan kuat: bahwa alam yang rapuh ini membutuhkan partisipasi semua pihak, bukan hanya sekadar janji.


Mengapa Miangas Menjadi Pilihan?

Pulau Miangas dikenal sebagai salah satu pulau terluar Indonesia yang kerap mendapat sorotan karena posisinya yang strategis sekaligus terpencil. Di sinilah garis batas negara berjumpa dengan Samudra Pasifik, dan di sinilah pula sebuah pesan moral ditanam bersama bibit pohon: bahwa menjaga alam bukan soal lokasi, tetapi tentang tanggung jawab bersama.

Pohon-pohon yang ditanam pada kegiatan tersebut adalah jenis pohon bitung — tanaman yang dinilai cocok untuk kondisi geografis setempat. Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol harapan baru: sebuah bukti langkah kecil namun berkelanjutan untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Gerakan ini juga dipandang sebagai respons atas kenyataan bahwa banyak wilayah di Indonesia mengalami krisis alam berupa deforestasi, lahan gundul, dan degradasi hutan yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Tanpa minimalkan tantangan, Sahrin menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni seremonial belaka. “Tanam pohon ini juga sebagai pesan kepada para pimpinan negeri ini untuk melakukan gerakan tanam pohon di tengah terjadinya deforestasi dan hutan gundul yang semakin banyak,” ujarnya, sekaligus mendorong agar setiap pemangku kebijakan ikut mengambil bagian dalam upaya memulihkan alam.


Peran Komunitas dan Masyarakat Lokal

Yang membuat kegiatan ini lebih bermakna adalah keterlibatan langsung tokoh lokal. Sahrin ditemani oleh Camat Kecamatan Khusus Miangas, Olita Papalu, serta Kepala Adat Ratumbanua (Mangku I Ratumbanua) dan ketua DPD Gerakan Rakyat di Kabupaten Kepulauan Talaud, Ferdi Tumeno. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan manifestasi kerja sama antara komunitas nasional dengan masyarakat adat dan lokal demi tujuan bersama: menjaga dan memulihkan lingkungan hidup.

Kolaborasi semacam ini menunjukkan bagaimana proses pelestarian alam dapat direalisasikan melalui keterlibatan berbagai pihak, tak hanya organisasi sosial atau pemerintah saja. Michel, seorang warga Miangas yang turut menanam pohon, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini membantu mereka memahami bahwa alam tetap memiliki nilai penting — bukan hanya sebagai ruang hidup, tetapi juga sebagai warisan untuk generasi mendatang.


Menanam Harapan, Menumbuhkan Kesadaran

Saat sore mulai merayap, dengan angin laut yang semakin lembut, gerakan tanam pohon di Titik 0 Kilometer Pulau Miangas menjadi cerita tentang kepedulian kolektif. Pohon-pohon yang baru saja berakar di tanah pulau kecil itu mungkin belum memberikan manfaat besar dalam jangka pendek. Namun lebih dari sekadar angka, simbolisme sebuah gerakan yang dimulai dari pinggiran negeri ini mempertegas satu hal: bahwa kepedulian terhadap alam harus dimulai dari setiap individu.

Sahrin menegaskan bahwa usaha menjaga dan merawat lingkungan hidup bukan hanya tugas pemerintah atau organisasi tertentu. Justru, ia menyampaikan, tanggung jawab itu harus menjadi bagian dari kesadaran bersama seluruh elemen masyarakat. Tanpa partisipasi aktif warga negeri, mustahil sebuah agenda keberlanjutan dapat benar-benar terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang.


Dari Miangas untuk Indonesia

Gerakan Rakyat menggarisbawahi bahwa kegiatan penanaman pohon di Miangas adalah awal dari serangkaian aksi yang akan dilakukan secara konsisten di berbagai wilayah Indonesia. Aksi ini merupakan model nyata dari apa yang disebutnya sebagai keadilan ekologi — sebuah prinsip yang menuntut hubungan seimbang antara manusia dan alam. Dengan menanam bibit demi bibit, Gerakan Rakyat berharap bisa membangkitkan semangat baru untuk pelestarian lingkungan di seluruh Nusantara.

Dalam narasi besar aksi ini, akar pohon yang menancap di tanah Miangas bukan sekadar akar tumbuhan. Ia adalah akar komitmen, simbol harapan, dan representasi tekad bersama untuk menjaga bumi tetap lestari. Sebuah pesan bahwa meski tantangan lingkungan semakin nyata, langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi awal perubahan besar — dari ujung negeri, untuk seluruh Indonesia.